​Seorang Ayah Ingin Belajar Sesuatu Dari Anaknya Tetapi Anaknya Tensen Ayahnya Asyik Ulang-Ulang 4 Kali Tanya “Apa Itu?” Namun, Setelah Melihat Buku Harian Ayahnya, Dia Terus Menangis dan Menyesal!

Sharing is caring!

Seorang ayah dan anak laki-lakinya duduk berdampingan di pekarangan rumah. Si anak membaca koran dan sang ayah yang usianya sudah tua duduk santai melihat sekelilingnya.

Tiba-tiba, seekor burung pipit terbang ke semak-semak tak jauh dari sana. Sang ayah pun bergumam, “Apa itu?” Si anak mendengar ayahnya berbicara mengangkat kepalanya dan berkata, “Oh.. Itu burung pipit”, kemudian menunduk kembali membaca koran.

Loading...

Sponsored Ad

Sang ayah mengangguk, mengamati burung pipit tersebut berjalan di antara ranting dan dedaunan. Tak lama kemudian, ayahnya bertanya lagi, “Apa itu?” Si anak enggan mengangkat kepalanya dan mengerutkan keningnya menjawab, “Ayah, kan tadi udah bilang, itu burung pipit.” Ia pun mengibas-ngibaskan korannya dan terus membaca.

Burung pipit tersebut terbang menjauh dan mendarat di rerumputan. Sang ayah beranjak dari tempat duduknya dan memandang burung tersebut bertanya, “Apa itu?” Si anak sudah tidak sabar lagi. Ia merapikan korannya dan berkata, “Itu burung pipit, ayah! PIPIT! P-I-P-I-T! Pipit!”

Ia menatap ayahnya dengan wajah kesal, namun sang ayah sama sekali tidak menatapnya. Pandangannya tetap tertuju pada burung tersebut. Ia pun bertanya lagi, “Apa itu?” Kali ini, si anak sudah benar-benar kehilangang kesabaran. Ia pun marah dengan suara keras, “Bapak ngapain sih tanya ulang-ulang terus!?” Itu burung pipit!! Masih gak ngerti juga!?”

Si bapak diam saja. Tanpa sepatah kata, ia berjalan maju ke arah rerumputan. “Bapak mau ke mana?”, tanya si anak. Sang ayah mengangkat tangannya memberi isyarat kamu tidak usah ikut. Si anak pun menghela nafasnya dan masuk ke rumah.

Tak lama kemudian, sang ayah kembali ke rumah. Ia membawa sebuah buku. Ia memberikan buku itu kepadanya anaknya dan menyuruhnya baca. Si anak tidak mengerti apa yang ingin ayahnya lakukan, namun ia pun membacanya sesuai perintahnya.

Sponsored Ad

“Hari ini, aku duduk di taman bersama anakku. Ia baru berusia 3 tahun. Seekor burung pipit terbang dan mendarat di depan kami. Anakku bertanya, “Apa itu?”. Lalu aku menjawab, “Itu namanya burung pipit.” Kemudian ia berdiri dan berjalan mendekati burung itu. Ia bertanya lagi, “Apa itu?” Aku menjawab lagi, “Itu burung pipit.” Ia bertanya sebanyak 12 kali, dan aku pun menjawabnya sebanyak 12 kali. Setiap kali ia bertanya, aku memeluknya dan merasa, betapa lucunya anakku…”

Air mata pun mengalir dari mata sang ayah. Ia seperti mengenang masa lalu yang indah takkan pernah kembali lagi. Selesai membaca, si anak menutup buku, berusaha untuk menahan tangis, membuka kedua tangannya dan memeluk sang ayah…

Loading...

Ternyata, sang ayah tidak pikun. Hanya saja, ia melihat burung pipit dan kemudian teringat akan kenangan masa lalu dengan anaknya. Ia sengaja mengulangi pertanyaan yang sama. Anak kecil di dalam buku itu kini telah tumbuh besar menjadi seorang yang dewasa, tidak mengejar-ngejar ayahnya bertanya, “Apa itu?”, melainkan menundukkan kepalanya sibuk melakukan hal sendiri, terhadap ayah pun dingin, baru ditanya sedikit saja langsung marah.

Jika kita ibaratkan jasa dan budi baik orang tua adalah hutang, maka sanggupkah kita melunasinya selagi mereka masih hidup? Apakah kita sudah melupakan semua yang mereka lakukan untuk kita sewaktu kita masih kecil? Dari kita lahir, sampai mereka tua, cinta itu tidak pernah berubah. Semua yang telah mereka lakukan adalah tanpa syarat, tanpa keluhan, tanpa tanda jasa. Mereka tidak meminta apa-apa, hanya harapan dan doa untuk anaknya agar bisa sukses dan bahagia di kemudian hari, walau mereka sudah tidak ada di dunia ini.

Sponsored Ad

Suatu saat, kalau ayah dan ibu sudah tua nanti,

Jangan menyalahkan mereka mengotori pakaian, dulu mereka juga membersihkan kotoranmu waktu kamu kecil…

Jangan mengeluh mereka berjalan begitu lamban, dulu mereka bahkan membungkukkan badan mereka, mengajarimu jalan selangkah demi selangkah…

Jangan menyuruh mereka makan cepat-cepat, ingat dulu waktu kamu kecil mereka menyuap kamu yang sambil makan sambil main sampai berjam-jam…

Jangan mengatai mereka seperti radio rusak. Ingat, dulu waktu kamu baru belajar berbicara, mereka menganggap itu suatu nyanyian yang merdu…

Di mana ada mereka, di sanalah rumah… Cinta tidak harus diungkap dengan kata-kata, namun melalui niat, perhatian dan kesabaran, seperti bagaimana mereka merawat kita waktu kecil…

Semoga ini menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi kita semua!

“Pa, ma, aku sayang kalian!!”

Sumber: pixpo

 

 

Loading...

Fotografer Wanita Ini Menghabiskan 10 Tahun Memotret Hidup Gelandangan, Tak Disangka Hari Itu Dia Terakam Gambar Seorang Gelandangan yang Dia Kenal. Rupa-rupanya Gelandangan tu Tak Lain tak Bukan Adalah…

Takdir, adalah sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dan sangatlah misterius. Diana Kim merupakan seorang fotografer yang di mempunyai proyek untuk mengambil gambar gelandangan di sekitar kawasan Hawaii. 4 tahun yang lalu ketika sedang memotret, ia menemukan takdir lewat kameranya.

Pada tahun 2012, ketika beliau sedang mencari objek foto di jalan Honolulu. Kim melihat seorang gelandangan di kawasan tersebut yang terlihat sangat familiar.

Diana sangat terkejut saat bahwa gelandangan tersebut mirip sosok ayahnya yang telah lama hilang. Ia tidak berani untuk berbicara dengannya. Diana berdiri disamping untuk memperhatikan “gelandangan” tersebut. Orang yang lalu lalang juga tidak ada yang melihat kehadiran gelandangan itu.

Diana akhirnya memberanikan diri untuk mendekatinya, namun tidak ada respon dari orang itu. Bahkan ibu disebelahnya mengatakan bahwa orang itu sudah tidak ketolongan, tidak usah diladenin.

Dari situ ia juga baru tahu dari neneknya, bahwa ayahnya telah menjadi gelandangan dengan kesehatan mental yang mulai memburuk dan tidak ada yang tahu di mana ia berada.

Diana menceritakan bahwa ayahnya yang memperkenalkannya pertama kali dengan dunia fotografi yang kini ia gemari.

Orangtuanya berpisah ketika dia berumur 5 tahun. Selepas itu, Diana dan ibunya hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dari kerabat satu ke kerabat yang lain. Dari teman satu ke teman yang lain. Mereka bahkan pernah tidur di taman.

Mungkin juga karena perjalanan pahit yang Diana pernah alami, ia bertekad untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.

Diana berusaha untuk berhubungan kembali dengan ayahnya. Setiap hari setelah mengantar anaknya ke sekolah, ia kembali mencari bapanya dan memberinya makanan dan minuman. Diana mulai dari percakapan kecil, ia berharap bapanya mau menerima perawatan yang dibutuhkan. Awalnya, bapanya sama sekali tidak mengubrisnya, melihat wajahnya saja tidak mau.

Loading...

Setelah itu, ia terus mendokumentasikan setiap perilaku ayahnya. Ia menyadari bahwa ia sedang berkomunikasi dengan ayahnya lewat kamera.

Diana memutuskan untuk tidak membujuknya menerima perawatan lagi. Ia terus memotret ayahnya itu.

Suatu hari, Diana tidak menemukan ayahnya dijalanan yang biasa ia berada. Setelah mencari-cari, ia baru tahu bahwa ayahnya masuk ke rumah sakit karena terkena serangan jantung.

Mungkin kejadian ini entah berkah tersembunyi atau berkat menyamar. Karena ayahnya terpaksa kerumah sakit karena penyakitnya itu.

Setelah menerima perawatan medis, mental ayahnya juga semakin membaik. Ia pelan-pelan mau berbicara dengan Diana.

Sekarang mereka menjalin hubungan yang baik, setiap hari berbicara tentang masa lalu dan masa depan. Beda banget kan…


Diana mengatakan: “Sebelumnya, ketika saya memikirkan bahwa saya ditinggalkan ayah, saya sangat sedih dan merasa telah kehilangan semua keberanian untuk mencintai” Tapi setiap hari adalah awal yang baru, dia memutuskan untuk melepaskan semua perasaan masa lalu dan memulai sebuah hubungan yang baru bersama ayahnya.

Menurut Diana, dalam hidup itu selalu ada “kesempatan kedua”. “Tidak ada kegagalan kecuali kamu menyerah, dan ia (ayah) tidak pernah menyerah. Saya juga tidak pernah menyerah pada dirinya.”

Mengharukan banget yahhh Sobat Cerpen… Semoga kalian juga terinspirasi dengan cerita ini untuk selalu berjuang dan tidak menyerah! Jangan lupa SHARE cerita ini kepada teman-teman yahhh!!!

Sumber: Pxpo

 

 

Sharing is caring!

Loading...